Ayat Pokok Hari Ini:
Matius 21:41
Mereka menjawab-Nya: “Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan mempercayakan kebun anggur itu kepada penggarap-penggarap lain yang akan menyerahkan hasilnya pada waktunya.”
Renungan:
Di masa Prapaskah ini, Tuhan sering menggunakan perumpamaan untuk menyentuh hati kita yang paling dalam. Hari ini kita diajak merenungkan kisah tentang pemilik kebun anggur yang menyewa tanahnya kepada penggarap-penggarap. Mereka menerima segala fasilitas: pagar, tempat pemerasan anggur, menara pengawas. Semua sudah disediakan agar mereka bisa bekerja dengan baik dan menyerahkan hasil pada waktunya.
Tetapi penggarap-penggarap itu malah mengingkari perjanjian. Ketika pemilik mengutus hamba-hambanya untuk mengambil hasil, mereka dipukul, dibunuh, dan dilempari batu. Akhirnya pemilik mengutus anaknya sendiri, berpikir mereka akan menghormatinya. Tapi anak itu pun dibunuh di luar kebun.
Perumpamaan ini sangat menyentuh karena menggambarkan bagaimana Allah Bapa mengutus nabi-nabi-Nya kepada umat-Nya, tapi sering ditolak. Puncaknya adalah ketika Ia mengutus Yesus, Anak-Nya yang tunggal. Yesus datang untuk mengumpulkan hasil kebenaran dan kasih dari umat-Nya, tapi Ia dibunuh di luar kota.
Kita sering melihat kisah ini sebagai sejarah masa lalu. Tapi Tuhan mengajak kita melihatnya sebagai cermin hari ini. Kita adalah penggarap-penggarap yang diberi “kebun anggur” kehidupan: talenta, waktu, keluarga, pekerjaan, iman, dan kesempatan bertobat di Prapaskah. Semua sudah disediakan oleh Pemilik yang baik hati. Tapi sering kali kita lupa menyerahkan “hasil” itu: kesetiaan dalam doa, kasih kepada sesama, pengampunan, kejujuran, dan kerendahan hati.
Tuhan tidak meminta yang mustahil. Ia hanya meminta kita menyerahkan hasil pada waktunya, artinya hidup kita menjadi berkat bagi orang lain dan bagi kemuliaan-Nya. Ketika kita gagal, Ia tetap mengutus “hamba-hamba” melalui suara hati, Firman, atau orang-orang di sekitar kita untuk mengingatkan. Dan ketika kita menolak, Ia tetap sabar.
Hari ini Tuhan bertanya: apa hasil yang sudah kita serahkan kepada-Nya di masa Prapaskah ini? Apakah kita sudah lebih setia dalam doa, lebih pengasih kepada sesama, lebih rendah hati dalam mengaku dosa? Atau masih ada bagian “kebun” yang kita kuasai sendiri dan tidak mau diserahkan?
Perumpamaan ini berakhir dengan penghakiman atas penggarap yang tidak setia, tapi juga janji bahwa kebun itu akan diberikan kepada mereka yang mau menyerahkan hasil. Itulah undangan bagi kita: jadilah penggarap yang setia. Serahkanlah hidupmu hari ini, dan Tuhan akan memuliakanmu.
Aplikasi Praktis Hari Ini:
1. Periksa satu area hidupmu: talenta, waktu, hubungan, atau kebiasaan. Apa “hasil” yang belum kamu serahkan kepada Tuhan?
2. Lakukan satu tindakan setia hari ini: misalnya, berdoa lebih lama, memaafkan seseorang, atau membantu tanpa pamrih.
3. Tulis satu kalimat syukur atas “kebun” yang Tuhan percayakan kepadamu.
4. Setiap kali tergoda menguasai sendiri, ingatkan diri: ini milik Pemilik, aku hanya penggarap.
5. Malam hari, serahkan hasil hari ini kepada Tuhan dalam doa syukur.
Doa Penutup:
Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau adalah Anak yang setia dan memberikan nyawa-Mu bagi kami. Ampuni kami jika selama ini kami seperti penggarap yang tidak setia, menguasai apa yang bukan milik kami. Hari ini kami mau menyerahkan hasil hidup kami kepada-Mu. Bantu kami menjadi penggarap yang setia, yang menyerahkan buah kasih, kebenaran, dan kerendahan hati pada waktunya. Berilah kami kekuatan untuk tetap setia di masa Prapaskah ini. Dalam nama Yesus Kristus, Amin.
Komentar