Ayat Pokok Hari Ini:
Matius 20:28
Seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.
Renungan:
Di masa Prapaskah ini, Tuhan tidak hanya meminta kita berpuasa dari makanan atau kebiasaan buruk, tetapi juga meminta kita berpuasa dari sikap ingin dilayani dan dari keinginan untuk menjadi yang terbesar. Yesus sedang dalam perjalanan menuju Yerusalem untuk disalibkan, dan pada saat itu Ia mengajarkan pelajaran yang paling penting tentang kerajaan-Nya.
Ia tahu murid-murid-Nya masih berpikir seperti dunia ini, yaitu siapa yang paling berkuasa, paling dihormati, dan paling dilayani. Maka Ia memanggil mereka dan berkata dengan sangat jelas: "Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,
dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu"
Yesus sendiri menjadi contoh hidup dari kata-kata itu. Ia yang adalah Tuhan, Raja segala raja, memilih untuk datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang. Ia membasuh kaki murid-murid-Nya, Ia menyembuhkan orang sakit, Ia memberi makan ribuan orang, dan akhirnya Ia mati di kayu salib demi kita.
Ini adalah panggilan yang sangat radikal di masa Prapaskah. Banyak dari kita ingin menjadi yang pertama di pekerjaan, di keluarga, di gereja, atau di masyarakat. Kita ingin dihargai, diakui, dan dilayani. Tapi Yesus membalikkan segalanya. Ia berkata bahwa kebesaran sejati adalah dalam kerendahan hati dan pelayanan.
Di Indonesia saat ini, pelayanan bisa berarti hal-hal yang sederhana namun sangat berarti: mendengarkan teman yang sedang susah tanpa menghakimi, membantu tetangga yang kesulitan tanpa mengharapkan balasan, memaafkan saudara yang pernah menyakiti kita, atau melayani di gereja dengan hati yang tulus meski tidak dilihat orang.
Pelayanan seperti ini tidak selalu mudah. Kadang kita merasa lelah, kadang kita merasa tidak dihargai. Tapi ingatlah, Yesus juga merasakan hal yang sama. Ia melayani sampai akhir, bahkan ketika murid-murid-Nya lari meninggalkan-Nya. Dan karena Ia rela melayani, Bapa memuliakan-Nya.
Di Prapaskah ini, Tuhan mengajak kita turun dari tahta ego kita dan belajar melayani seperti Yesus. Ketika kita mau rendah hati dan melayani, kita sedang mengikuti jejak salib-Nya, dan suatu hari kita akan ikut serta dalam kemuliaan kebangkitan-Nya.
Aplikasi Praktis Hari Ini:
1. Pilih satu orang di sekitarmu yang membutuhkan pelayanan hari ini dan lakukan sesuatu yang konkret untuknya tanpa mengharapkan terima kasih.
2. Tulis satu sikap ingin dilayani yang masih ada dalam hatimu dan serahkan kepada Tuhan dalam doa.
3. Setiap kali merasa ingin diutamakan, ingatkan diri dengan berkata dalam hati: aku datang untuk melayani seperti Yesus.
4. Luangkan waktu sore ini untuk melayani keluarga di rumah dengan cara yang biasanya kamu hindari.
5. Akhiri hari dengan bersyukur atas kesempatan melayani yang Tuhan berikan hari ini.
Doa Penutup:
Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Mu bagi kami. Ampuni kami jika selama ini kami masih ingin menjadi yang terbesar dan paling dilayani. Hari ini kami mau belajar menjadi pelayan yang rendah hati seperti Engkau. Ubahlah hati kami yang egois menjadi hati yang rela melayani dengan sukacita. Berilah kami kekuatan untuk melayani orang lain tanpa mengharapkan balasan. Jadikan hidup kami menjadi berkat bagi banyak orang di masa Prapaskah ini. Dalam nama Yesus Kristus, Amin.
Komentar